Batubara-indonesiaeditorial.com
Pelestarian budaya Melayu harus melampaui kegiatan seremonial dan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan pendidikan, keluarga, masyarakat, serta generasi muda. Pandangan tersebut disampaikan Abdul Wahab Absam, sebagai putra Batubara yang menaruh perhatian pada bidang pendidikan, dakwah, sosial budaya, dan kearifan lokal di Sumatera Utara, saat dimintai tanggapan oleh media melalui WhatsApp, Jumat (9/10/2026).
Tanggapannya berkaitan dengan penyelenggaraan Gebyar Batubara Bertanjak Jilid VII yang dijadwalkan berlangsung pada 10–16 Oktober 2026 di kawasan Istana Niat Lima Laras, Kabupaten Batubara.
Menurut Abdul Wahab, kegiatan kebudayaan seperti Gebyar Batubara Bertanjak memiliki arti strategis apabila tidak hanya menjadi ajang menampilkan simbol-simbol tradisi, tetapi juga mampu membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga identitas dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
“Budaya tidak cukup hanya dirayakan. Budaya harus dipahami, dihidupkan dalam keseharian, dan diwariskan kepada generasi muda. Jangan sampai kita bangga menampilkan simbol-simbol budaya, tetapi kehilangan kepedulian terhadap nilai dan sejarah yang terkandung di dalamnya,” demikian pandangan Abdul Wahab.
Bertanjak Bukan Sekadar Atribut, tetapi Identitas Budaya
Abdul Wahab memandang tradisi bertanjak sebagai bagian dari khazanah budaya Melayu yang layak dirawat dan diperkenalkan secara lebih luas. Tanjak bukan semata-mata penutup kepala tradisional, melainkan juga simbol identitas adat yang merepresentasikan kekayaan tradisi dan sejarah masyarakat Melayu.
Namun, pelestarian budaya, menurut perspektif yang dikemukakannya, tidak boleh berhenti pada penggunaan atribut adat atau penyelenggaraan festival. Upaya tersebut perlu disertai pemahaman terhadap nilai kesantunan, penghormatan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang hidup dalam masyarakat.
Tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya menjaga agar tradisi tetap dikenal, tetapi juga memastikan generasi muda memiliki kesempatan untuk mempelajari, memahami, dan mengembangkannya tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Karena itu, kegiatan budaya perlu diarahkan menjadi ruang edukasi yang mempertemukan tokoh adat, budayawan,
pendidik, komunitas masyarakat, dan anak muda. Dengan pendekatan tersebut, tradisi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sumber pengetahuan dan pembentukan karakter.
Istana Niat Lima Laras dan Pentingnya Kesadaran Sejarah
Penyelenggaraan kegiatan di kawasan Istana Niat Lima Laras turut mengingatkan masyarakat pada pentingnya menjaga warisan sejarah Melayu di Kabupaten Batubara.
Warisan sejarah tidak cukup dipandang sebagai bangunan peninggalan masa lalu. Keberadaannya dapat menjadi sumber pembelajaran tentang perjalanan masyarakat, identitas daerah, dan nilai-nilai yang membentuk kehidupan sosial dari generasi ke generasi.
Bagi Abdul Wahab, perhatian terhadap budaya akan lebih bermakna apabila berjalan beriringan dengan penguatan literasi sejarah lokal. Generasi muda perlu mengenal bukan hanya nama dan bentuk peninggalan sejarah, melainkan juga memahami arti pentingnya bagi identitas dan masa depan daerah.
Kesadaran sejarah tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan, dokumentasi, kegiatan kebudayaan, serta keterlibatan masyarakat dalam merawat warisan lokal. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak bergantung pada satu perhelatan, tetapi menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan.
Pendidikan dan Kearifan Lokal Harus Berjalan Seiring sebagai pemerhati pendidikan, dakwah, sosial budaya, dan kearifan lokal di Sumatera Utara, Abdul Wahab menempatkan kebudayaan sebagai salah satu unsur penting dalam pembentukan karakter masyarakat.
Pendidikan, dalam konteks ini, tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keluarga, lingkungan sosial, lembaga keagamaan, dan komunitas adat juga memiliki peran dalam menanamkan penghargaan terhadap sejarah, kesantunan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.
Kearifan lokal dapat menjadi sumber pembelajaran karakter selama nilai-nilainya dipahami secara kritis dan diterapkan sesuai dengan prinsip kebaikan, kemanusiaan, serta
perkembangan masyarakat.
Oleh sebab itu, momentum Gebyar Batubara Bertanjak Jilid VII diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah daerah, tokoh adat, lembaga pendidikan, budayawan, komunitas, dan generasi muda dalam menjaga kesinambungan tradisi Melayu.
Pelestarian budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau kelompok adat. Ia membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas, termasuk keluarga sebagai lingkungan pertama tempat nilai dan identitas diwariskan.
Jangan Berhenti pada Festival
Salah satu tantangan dalam pelestarian kebudayaan adalah memastikan bahwa
semangat yang tumbuh selama kegiatan berlangsung tetap berlanjut setelah acara berakhir.
Festival dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas. Akan tetapi, dampak jangka panjangnya memerlukan tindak lanjut, seperti edukasi budaya bagi generasi muda, pendokumentasian tradisi, pengenalan sejarah lokal,
serta ruang partisipasi bagi komunitas budaya.
Dengan langkah-langkah tersebut, kegiatan kebudayaan berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas, bukan hanya bagi pelestarian identitas daerah, tetapi juga bagi penguatan hubungan sosial dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhurnya.
Bagi Kabupaten Batubara, kekayaan budaya Melayu merupakan modal sosial yang perlu dirawat bersama. Identitas daerah akan semakin kuat apabila masyarakat tidak hanya mengenal warisan budayanya, tetapi juga mengambil tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkannya.
Merawat Masa Lalu, Menyiapkan Masa Depan
Abdul Wahab berharap Gebyar Batubara Bertanjak Jilid VII dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa budaya merupakan bagian penting dari jati diri dan keberlanjutan suatu daerah.
Melestarikan tradisi, menurut pokok pandangan tersebut, bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya,
masyarakat dapat menerima kemajuan zaman sembari mempertahankan nilai-nilai luhur yang menjadi pijakan identitasnya.
Warisan budaya akan tetap hidup apabila dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan. Karena itu, keberhasilan pelestarian budaya tidak semata-mata diukur dari kemeriahan suatu acara, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran dan
keterlibatan masyarakat setelah kegiatan berakhir.
Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan amanah yang harus dijaga hari ini agar tetap bermakna bagi generasi mendatang.Selamat dan Sukses Gebyar Batubara Bertanjak Jilid VII pada 10–16 Oktober 2026 di kawasan Istana Niat Lima Laras, Kabupaten Batubara.(W26/IE26)
