Allah SWT berfirman :
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Az-Zumar 39: 5)
Sugguh berjalannya waktu adalah proses alamiah yang tidak bisa dihentikan, bergerak maju dari masa ke masa. Ia aset berharga dan ibarat pedang yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan, karena setiap detiknya tidak dapat diulang.
Waktu berjalan tanpa pernah kembali, bagaikan air sungai yang mengalir kehilir
dan takkan kehulu lagi. Hari-hari yang kita lewati adalah umur. Apabila waktu berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita, waktu adalah karunia Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya.
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Rasulullah SAW bersabda : “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhori, Ibnu Majah)
Sesungguhnya hidup, bagaikan mengurai waktu, melepas untaian satu persatu. Semua berjalan bagaikan tidak ada awal dan akhir, yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang dan menua.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda :
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima
perkara, (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim 4:341)
Ulama terdahulu begitu menyesali diri jika hari-hari dilewati tanpa meninggalkan kebaikan, ajal semakin mendekat maut siap melumat.
Bagi para Ulama menunggu satu waktu saja tanpa amalan, itu sudah membuang-buang waktu. Waktu sangat berharga bagi seorang Muslim, mereka benar-benar menjaganya dalam ketaatan kepada Allah, itu menunjukkan akhlak dirinya.
Rasulullah SAW bersabda :
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317)
Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang Muslim adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku menjadi buruk menjauh dari akhlakul karimah.
Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban.
Firman Allah SWT : ” Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu
lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS: Ar-Rum 30:54)
Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan.
Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-
sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.”
Rasulullah SAW biasa meminta perlindungan dengan do’a, yaitu ” Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir atau pelit).” (HR. Bukhari, no. 6371)
Ingatlah waktu adalah periode zaman yang berjalan dari titik ketitik, manfaatkanlah untuk segala sesuatu kebaikan didalamnya, sebab pemilik waktu pasti akan meminta pertanggungjawaban suatu saat nanti. (W26)
